Mengukur Dampak: Tim IPB University Turun Langsung Evaluasi Budidaya Maggot dan Probiotik
Table of Contents
emhate.com - Selama dua hari, pada 22 hingga 23 September 2026, tim IPB University melakukan monitoring dan evaluasi terhadap program pemberdayaan Kelompok Wanita Serikandi Biru di Kabupaten Garut. Kegiatan ini menjadi bagian dari rangkaian pendampingan hibah Program Pengembangan Inovasi Skema C (Riset Strategis) dari program PRIME SteP Tahun 2026.
Berdasarkan rencana kegiatan yang tercantum dalam proposal, monitoring pada bulan September ini merupakan bagian dari tahapan pendampingan awal kelompok wanita.
Meninjau Kandang, Kolam, dan Kebun
Pada hari pertama monitoring, tim memfokuskan kegiatan pada aspek teknis budidaya. Kandang maggot Black Soldier Fly (BSF) diperiksa untuk melihat perkembangan larva serta efisiensi konversi limbah organik dari program Makan Bergizi Gratis (MBG) menjadi biomassa maggot. Pemeriksaan turut mencakup kondisi kasgot yang dihasilkan sebagai calon pupuk organik.
Selain kandang maggot, tim juga memeriksa kondisi kolam budidaya ikan nila sistem air mengalir, meliputi parameter suhu, pH, dan kadar oksigen terlarut. Sampel pertumbuhan ikan turut diambil untuk mengukur efektivitas pemberian pakan berbasis maggot BSF yang dicampur probiotik lokal BcDER2.
Peninjauan juga menyasar pemanfaatan kasgot sebagai pupuk organik pada tanaman pekarangan milik kelompok. Sejumlah tanaman yang dibudidayakan dalam polybag, seperti sawi dan sayuran lain, diamati perkembangannya untuk melihat konsistensi hasil penggunaan kasgot dibandingkan pupuk konvensional.
Menakar Dampak Sosial dan Ekonomi
Memasuki hari kedua, monitoring beralih pada aspek sosial dan ekonomi. Tim membagikan kuesioner kepada perwakilan anggota Serikandi Biru untuk mengukur capaian program dalam empat aspek, yaitu pengetahuan, sikap, perilaku, dan nilai ekonomi dari kegiatan biokonversi limbah organik. Kuesioner tersebut mencakup pertanyaan seputar pemahaman proses biokonversi, kesediaan mengelola limbah rumah tangga, praktik pemilahan sampah organik, hingga potensi penghematan biaya pakan dan pupuk yang dirasakan anggota.
Selain pengisian kuesioner, kegiatan hari kedua juga diisi dengan diskusi kelompok terarah (FGD) bersama anggota Serikandi Biru. Diskusi ini digunakan untuk menggali kendala yang masih dihadapi kelompok, seperti keterbatasan peralatan atau rasa tidak nyaman sebagian anggota terhadap larva maggot, sekaligus menjaring masukan untuk penyempurnaan modul pelatihan dan pendampingan lanjutan.
Hasil sementara dari kuesioner dan diskusi menunjukkan bahwa sebagian besar anggota kelompok sudah cukup memahami manfaat biokonversi limbah organik, meskipun tingkat kepercayaan diri dalam mengelola maggot secara mandiri masih bervariasi antaranggota. Catatan ini menjadi salah satu bahan evaluasi bagi tim pendamping untuk merancang materi pelatihan lanjutan.
Menyusun Langkah Berikutnya
Hasil monitoring dua hari ini nantinya akan menjadi dasar penyusunan rekomendasi teknis, baik untuk penyempurnaan sistem budidaya maggot dan probiotik, maupun untuk memperkuat kelembagaan kelompok menuju unit usaha bersama. Tim IPB University berharap seluruh proses ini dapat mendorong Serikandi Biru semakin mandiri dalam mengelola limbah dan mengembangkan usaha budidaya secara berkelanjutan hingga tahap evaluasi akhir tahun.
Gabung ke saluran WhatsApp emhate.com untuk mendapatkan informasi lebih update. Klik link di bawah ini.

Posting Komentar