Menyala Sapa: Saat Lansia Panti Wredha Kamilus Menjadi "Guru Kehidupan"
Table of Contents
emhate.com - Tim PKM PM Menyala Pantiku IPB University yang terdiri dari 5 mahasiswa IPB, kembali melanjutkan tahapannya melalui sub-program Menyala Sapa, program penguatan dimensi sosial yang dirancang khusus untuk menghidupkan kembali peran lansia sebagai penasihat dan pewaris nilai kehidupan. Kegiatan ini dilaksanakan bersama sepuluh lansia binaan Panti Wredha Kamilus (PWK) Bogor, yang berlokasi di Komplek Bukit Cimanggu City, Jalan Baru Blok O3, Kelurahan Cibadak, Kecamatan Tanah Sareal, Kota Bogor.
Sapa Warisan: Menjadi "Guru Kehidupan"
Kegiatan pertama dalam rangkaian Menyala Sapa adalah Sapa Warisan. Dalam sesi ini, para lansia PWK diajak menceritakan nasihat hidup dan nilai-nilai budaya yang ingin mereka wariskan kepada generasi penerus. Menggunakan metode wawancara mendalam yang dipandu tim fasilitator, serta format siniar (podcast), kisah dan kearifan hidup masing-masing lansia direkam dalam bentuk konten audiovisual menggunakan alat rekam dan tripod, lalu didokumentasikan sebagai bagian dari buku ko-kreasi lintas generasi.
Suasana yang dibangun dalam sesi ini sengaja dibuat hangat dan tidak terburu-buru, agar lansia merasa nyaman membuka cerita, mulai dari kenangan masa muda, perjalanan hidup yang penuh liku, hingga pesan-pesan yang ingin mereka sampaikan kepada anak cucu dan generasi mendatang. Salah satu lansia, misalnya, menceritakan bagaimana ia dulu membesarkan keluarganya di tengah keterbatasan, dan berharap semangat pantang menyerah itu bisa terus diteruskan oleh anak-anak muda saat ini.
Sesi Sapa Warisan terbukti menjadi ruang penting bagi lansia untuk kembali merasa dihargai dan didengar. Alih-alih menjadi penerima layanan pasif, para lansia diposisikan sebagai subjek aktif sebagai "Guru Kehidupan" yang pengalaman hidupnya layak disimak dan diteruskan. Pendekatan ini sejalan dengan konsep reminisensi transmisif, yakni pemenuhan kebutuhan psikologis lansia untuk mewariskan nilai (legacy) agar mereka merasa hidupnya tetap bermakna dan berguna bagi generasi berikutnya, bukan sekadar menjadi kenangan yang berhenti di dalam panti.
Kegiatan kedua, Sapa Rupa, menghadirkan suasana yang lebih santai dan penuh warna secara harfiah. Para lansia dibagi ke dalam kelompok-kelompok kecil berisi dua hingga tiga orang, kemudian diajak melukis kolaboratif di atas kanvas menggunakan cat akrilik, kuas, dan palet warna. Sembari menorehkan goresan kuas bersama, mereka saling bertukar cerita, tawa, dan pengalaman hidup satu sama lain.
Aktivitas seni kolaboratif ini sengaja dipilih karena sifatnya yang tidak membebani, namun cukup efektif memancing interaksi alami. Tanpa tekanan untuk "melukis dengan sempurna", para lansia tampak lebih leluasa membuka percakapan yang mungkin selama ini jarang terjadi di antara mereka. Beberapa lansia bahkan mengaku baru mengetahui kisah hidup teman sekamarnya sendiri melalui obrolan ringan yang muncul di tengah kegiatan melukis ini.
Melalui Sapa Rupa, tim MENYALA PANTIKU berupaya membangun kembali kedekatan antar penghuni panti, sekaligus mengurangi rasa kesepian dan keterisolasian yang selama ini banyak dirasakan oleh lansia yang tinggal jauh dari keluarga.
Lebih dari sekadar kegiatan pengisi waktu, Menyala Sapa menjadi jembatan nyata bagi transmisi nilai lintas generasi. Melalui Sapa Warisan dan Sapa Rupa, para lansia Panti Wredha Kamilus tidak hanya kembali terhubung secara sosial, tetapi juga menemukan kembali makna dari peran mereka sebagai penasihat kehidupan. Program ini memastikan bahwa pengalaman dan kearifan hidup para lansia tidak berhenti di tembok panti, melainkan terus "menyala" dan hidup dalam ingatan generasi yang lebih muda.
Gabung ke saluran WhatsApp emhate.com untuk mendapatkan informasi lebih update. Klik link di bawah ini.

Posting Komentar