Bagaimana Peran Masyarakat dan Digitalisasi Mempengaruhi Perkembangan Desa Wisata?
![]() |
| Source: Visiting Jogja |
Pernahkah kamu melihat sebuah desa kecil yang tiba-tiba viral di media sosial, padahal lokasinya jauh dari pusat kota dan aksesnya tidak mudah? Di era digital seperti sekarang, promosi wisata memang tidak lagi bergantung pada brosur atau baliho.
Media sosial, website, dan internet menjadi kunci utama untuk menjangkau wisatawan yang lebih luas. Namun muncul pertanyaan menarik: apakah semakin aktif masyarakat berpartisipasi dalam pengembangan desa wisata, maka semakin tinggi pula pemanfaatan teknologi digitalnya?
Mengenal Desa Wisata Jelok dan Perkembangannya
Desa Wisata Jelok terletak di Dusun Jelok, Desa Beji,
Kecamatan Patuk, Kabupaten Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Desa ini
didirikan pada tahun 2010 atas inisiatif masyarakat setempat untuk menggali dan
mengembangkan potensi alam serta budaya yang dimiliki dusun tersebut. Meski
sempat mengalami kendala serius karena jembatan akses utama roboh selama satu
tahun, desa ini mampu bangkit kembali dan memulai strategi pengembangan
berbasis teknologi digital.
Dalam proses kebangkitannya, Desa Wisata Jelok mulai
memanfaatkan berbagai platform digital seperti website, Instagram, Facebook,
YouTube, TikTok, dan WhatsApp sebagai sarana promosi, penyediaan informasi,
serta dokumentasi kegiatan wisata. Digitalisasi menjadi strategi penting untuk
memperkenalkan kembali potensi desa kepada wisatawan lokal maupun luar daerah.
Pentingnya Partisipasi Masyarakat dalam Pengembangan Desa Wisata
Dalam konsep pembangunan desa wisata, masyarakat bukan hanya
penerima manfaat, tetapi merupakan penggerak utama. Partisipasi masyarakat
mencakup keterlibatan dalam perencanaan, pengambilan keputusan, pelaksanaan
kegiatan, hingga evaluasi program. Tanpa dukungan dan keterlibatan aktif warga,
pengembangan desa wisata sulit berjalan secara berkelanjutan.
Partisipasi masyarakat di Desa Wisata Jelok terbagi ke dalam
tiga tingkatan. Pada tingkat manipulatif–pasif–konsultatif, masyarakat
mengetahui adanya kegiatan desa wisata namun belum terlibat aktif. Mereka
jarang menghadiri rapat atau memberikan masukan dan cenderung menyerahkan
keputusan kepada pengurus atau anggota Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis).
Pada tingkat insentif–fungsional, yang merupakan kategori
terbanyak, masyarakat sudah aktif terlibat dalam kegiatan desa wisata. Namun
keterlibatan tersebut didorong oleh adanya imbalan material maupun
non-material. Banyak warga yang membantu operasional Resto Jelok, rafting
Sungai Oyo, homestay, kerajinan Batik Shinuwun, hingga kegiatan outbond.
Partisipasi ini memberikan tambahan penghasilan serta kesempatan mengikuti
pelatihan gratis dari Dinas Pariwisata, sehingga hubungan yang terjalin
bersifat timbal balik.
Sementara itu, pada tingkat interaktif–inisiatif, masyarakat
berperan lebih strategis dan mandiri. Kelompok ini umumnya terdiri dari anggota
Pokdarwis yang menjadi penggerak utama desa wisata. Mereka menginisiasi rapat,
menyusun perencanaan, melakukan evaluasi, serta aktif mengelola media sosial
dan website desa wisata. Partisipasi pada tingkat ini lebih didorong oleh rasa
tanggung jawab dan kepedulian terhadap kemajuan desa.
Tingkat Pemanfaatan Digital di Desa Wisata Jelok
Pemanfaatan digital dinilai berdasarkan
kemampuan menyediakan informasi wisata, berbagi informasi, memahami konteks
digital, serta mendokumentasikan dan menandai kegiatan wisata.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas masyarakat
berada pada tingkat pemanfaatan digital yang tinggi, sementara sisanya berada
pada tingkat sedang, dan tidak ada yang berada pada kategori rendah. Kondisi
ini didukung oleh akses internet yang sudah menjangkau Dusun Jelok dengan baik,
termasuk tersedianya fasilitas WiFi di area desa wisata.
Masyarakat tidak hanya menggunakan internet untuk
kepentingan pribadi, tetapi juga untuk mempromosikan desa wisata. Banyak warga
yang mengunggah foto suasana desa, mempromosikan menu khas Resto Jelok,
menawarkan batik Shinuwun, serta membagikan informasi kegiatan wisata melalui
media sosial pribadi mereka. Digitalisasi menjadi alat promosi yang efektif dan
relatif murah untuk menjangkau calon wisatawan.
Apakah Partisipasi Berhubungan dengan Pemanfaatan Digital?
Secara teori, semakin tinggi partisipasi masyarakat,
seharusnya semakin tinggi pula pemanfaatan digital dalam pengembangan desa
wisata. Namun hasil analisis statistik menunjukkan bahwa
hubungan antara tingkat partisipasi masyarakat dan tingkat pemanfaatan digital
tergolong sangat lemah dan tidak signifikan.
Artinya, masyarakat dengan tingkat partisipasi rendah tetap
dapat memiliki tingkat pemanfaatan digital yang tinggi selama mereka memiliki
akses internet dan bersedia menggunakan media sosial untuk kepentingan desa
wisata. Digitalisasi di Desa Wisata Jelok lebih banyak digerakkan oleh anggota
Pokdarwis yang aktif mengelola platform resmi desa wisata, sementara masyarakat
lainnya berkontribusi dalam skala yang lebih sederhana melalui akun pribadi.
Temuan ini menunjukkan bahwa digitalisasi dan partisipasi
masyarakat merupakan dua aspek penting yang berjalan berdampingan, tetapi tidak
selalu saling menentukan secara langsung.
Digitalisasi Penting, Partisipasi Tetap Kunci
Desa Wisata Jelok membuktikan bahwa transformasi digital
dapat berjalan optimal bahkan di wilayah dengan keterbatasan akses geografis.
Mayoritas masyarakat sudah melek digital dan mampu memanfaatkan teknologi untuk
promosi wisata. Namun tingkat partisipasi masih didominasi oleh motivasi
insentif-fungsional, dan hubungan antara partisipasi serta pemanfaatan digital
tidak terbukti kuat secara statistik.
Hal ini memberikan pelajaran penting bahwa keberhasilan desa wisata tidak hanya ditentukan oleh seberapa canggih teknologi yang digunakan, tetapi juga oleh seberapa kuat rasa memiliki dan keterlibatan masyarakatnya. Digitalisasi dapat mempercepat pertumbuhan dan memperluas jangkauan promosi, tetapi keberlanjutan jangka panjang tetap bergantung pada kekuatan sosial dan partisipasi aktif warga desa.
Sumber:
Fauziah, N. R., & Nasdian, F. T. (2021). Hubungan antara Partisipasi Masyarakat dengan Pemanfaatan Digital pada Desa Wisata (Kasus: Desa Wisata Jelok, Desa Beji, Kecamatan Patuk, Kabupaten Gunung Kidul, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta). Jurnal Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat, 5(1), 189–201. .

Posting Komentar